Tampilkan postingan dengan label privat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label privat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 April 2014


  • Jumlah murid maksimal 8 orang/kelas

Bimbel THE WINNER menerapkan sistem pembelajaran yang efektif dengan membatasi jumlah murid maksimum 8 orang/kelas (Semi Private). Tujuan dari sistem ini adalah untuk mengoptimalkan proses pembelajaran di kelas. Jumlah murid maksimum 8 orang/kelas pada satu kelas dapat memudahkan proses pengembangan intelegensi, kreativitas murid secara baik dan terarah. Selain itu, sistem ini dapat menciptakan perhatian pengajar terhadap pola belajar murid secara efektif dan maksimal, misal dengan cara melakukan pendekatan individual yang menghargai murid sebagai individu yang berbeda satu dengan lainnya. Sehingga pengajar lebih mudah memantau.

  • Pengajar yang profesional & kompeten.

Salah satu faktor mengapa memilih Bimbel THE WINNER dengan memberikan pengajar yang profesional dan spesialisasi di bidangnya. Para pengajar Bimbel THE WINNER adalah Alumni Perguruan Tinggi Negeri UI, UNJ, UIN dan universitas ternama lainnya, serta kami mengedepankan MAHASISWA UI yang terseleksi dikarenakan kami ingin memberikan semangat teman2 mahasiswa untuk berperan membawa suasana kampus sehingga pelajar menjadikan kampus UI sebagai pencapaian hasil belajar.

  • Pembelajaran Karakter

Ini lah pembeda kami, ketika kami memberikan paparan keilmuan untuk pengusaan materi, kami pun tidak luput dalam memberikan pendidikan karakter kepada siswa kami. Karakter yang membuat diri siswa menjadi lebih semangat, terarah, memiliki impian/cita-cita yang jelas serta jiwa kepemimpinan.

Senin, 14 April 2014

Alamat Kami :
Jl. Raya Bogor KM 36 Perumahan Vila Pertiwi Blok G3/14
Kel. Sukamaju Kec. Cilodong - Kota Depok
Hp./WA : 08998930675
Email : rinaldiblog@gmail.com
Email : khadijah_nita@yahoo.com
VISI:
---------------------------
Menjadi lembaga bimbingan belajar TERPERCAYA dan sebagai PILIHAN UTAMA bagi orang tua, siswa, dan guru di sekolah untuk MENINGKATKAN PRESTASI siswa dengan MENGEDEPANKAN PENGUASAAN MATERI dan MEMBENTUK KARAKTER PRIBADI yang baik.

MISI:
---------------------------

  1. Menyediakan tenaga pengajar yang profesional dan berkompeten dalam bidang ilmunya masing-masing.
  2. Menyediakan bahan ajar serta soal-soal latihan berkualitas dan berbobot serta berkaitan dengan kurikulum pendidikan di sekolah.
  3. Menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk menunjang kegiatan proses belajar mengajar.
  4. Menggunakan multimedia sebagai sarana penyeimbang belajar.
  5. Menjaga hubungan baik dengan siswa, orang tua dan pihak sekolah serta pihak-pihak lainnya.

Langkah Awal Dalam Pendidikan Karakter

Komitmen merupakan langkah awal jika ingin memiliki karakter yang baik, tetapi komitmen seperti apa yang dibutuhkan untuk mensukseskan pendidikan karakter? Yaitu disiplin terhadap pendidikan karakter itu sendiri. Kali ini kita akan membahas dari sudut pandang sekolah.

Suatu ketika saya sempat mempresentasikan tentang pendidikan karakter dan dampaknya terhadap guru dan karyawan sekolah. Saya dan rekan sengaja menyeting agar lingkungan sekolah menjadi padu dengan isu pendidikan karakter yang akan didengungkan oleh sekolah yang bersangkutan. Saat saya menjelaskan tentang peraturan sekolah dan peraturan kelas, terlihat muka yang kurang nyaman, serta respon yang kurang antusias, serta air muka yang seakan berbeban berat menyikapi pelaksanaan pendidikan karakter.

Dan ditengah-tengah acara saya menjelaskan agar sekolah tidak perlu terburu-buru melakukan perombakan besar dalam aturan sekolah. Saya sangat memahami beban guru dalam mengajar dan kegiatan administrasinya, lakukan step by step yang penting ada komitmen dalam pelaksanaannya dan peliharalah disiplin sebagai motor penggerak pendidikan karakter itu sendiri, itu kuncinya. Disiplin, disiplin dan disiplin.

Sekilas saya jelaskan disiplin orang yang hidup di Indonesia dengan dua musim, berbeda dengan negara yang hidup dengan empat musim. Ketangguhan, daya juang dan inisiatif juga berbeda. Kita di Indonesia adalah wilayah yang tantangan secara alamnya cukup sedikit dibandingkan dengan mereka yang hidup di empat musim. Karena salah satu faktor inilah kita perlu belajar disiplin lebih lagi untuk kehidupan yang lebih baik. Disiplin sangat erat dengan kesuksesan, bahkan disiplin ada dalam satu paket dengan kesuksesan. Apapun yang hendak dicapai dalam kesuksesan itu disiplin adalah dasarnya. Bahkan ukuran disiplin sudah diformulasikan secara rinci oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outlier, bahwa butuh 10.000 jam kedisiplinan untuk menjadi master dalam bidang apapun. Penyanyi, atlet, profesional di bidang bisnis yang sukses telah melewati proses 10.000 jam. Dan anda tahu siapa saja yang telah menjadi master di bidangnya bukan? Sebut saja, Ruth sahayana, Taufik hidayat, Agnes Monica, Purwacaraka, Juna, Rifat Sungkar, Chairul Tanjung, Hermawan Kertajaya dan masih banyak sekali tokoh yang bisa disebut master di bidangnya masing-masing.

Pendidikan karakter cenderung tak akan pernah tersentuh secara nyata jika ada hanya sebatas proses pemahaman tentang karakter atau hanya bersifat informasi tanpa adanya tindakan. Dewasa ini di media cetak, elektronik dan media internet banyak memberitakan tentang kasus jual beli kunci ujian, contek mencontek, plagiatisme, bahkan kasus kriminal yang dilakukan oleh pelajar, itu semua menunjukan bahwa nilai realisasi karakter bangsa tidak terwujud nyata. Fenomena ini muncul akibat rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Faktor yang mempengaruhi antara lain :
  1. Rendahnya sarana fisik
  2. Rendahnya kualitas guru
  3. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan
  4. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan
  5. Visi dan moralitas pendidik serta anak didik yang rendah
  6. Mahalnya biaya pendidikan Memang menjadi masalah serius di negeri ini

Anggaran pendidikan yang sudah tinggi tidak menjamin sarana fisik yang baik dan biaya pendidikan yang terjangkau, penyebabnya jelas moralitas masyarakat yang mementingkan golongan, kepetingan pribadi dan mendapat keadaan yang tepat.

Keenam halangan ini hanya bisa hilang jika nilai luhur dan pendidikan karakter benar-benar terealisasikan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal berkaitan dengan permasalah diatas kiranya diperlukan suatu terobosan di dunia pendidikan untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter dan berprestas tinggi. Untuk mencapai itu diperlukan inovasi dan pengembangan nilai disiplin serta komitmen dari setiap perangkat sekolah agar pendidikan karakter bisa terus berjalan. Dampak dari pendidikan karakter dapat membangun individu untuk mengenali dirinya sendiri dan mampu menetapkan tujuan pendidikannya.

Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada sejak dulu seperti apa yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara melalui Among Metode, dimana ada tiga unsur pendidikan yang harus berjalan sinergis yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan Among Metode diharapkan anak akan tumbuh sesuai kodrat (naturelijke groei) dan keadaan budaya sendiri (cultuur histories). Sehingga ada tiga hal yang patut dan perlu untuk dikembangkan dalam rangka membangun karakter yang berpendidikan yaitu membangun budaya agar siswa selalu siap dengan perubahan yang semakin kompetitif mengingat budaya itu bersifat kontinue, konvergen dan konsentris (Ki Hajar Dewantara). Perhatikan kata-kata Ki Hajar Dewantara berikut “membangun budaya agar siswa selalu siap dengan perubahan yang semakin kompetitif” artinya diperlukan sikap yang berkomitmen dan disiplin terhadap pelaksanaan pendidikan karakter itu sendiri, dan semua ini dapat dimulai dari kita semua. Sudahkan anda berkomitmen terhadap hal ini?

Sebagai informasi tambahan, kami memberikan E-book Gratis 6 Cara Mendisiplinkan Anak yang dapat anda pelajari agar kita semua dapat memaksimalkan pendidikan karakter di negara kita dan ikut menciptakan kehidupan yang lebih baik serta mewarisikan hal terindah bagi anak cucu kita.

Salam

Timothy Wibowo
pendidikankarakter.com
Saya sebenarnya bukanlah seorang guru, namun hanya seorang yang suka berbagi ilmu meskipun cuma sedikit. Semenjak SMA, saya sudah terbiasa berbagi ilmu. Pertama kali saya berbagi ilmu dalam “jumlah besar” adalah ketika saya bertukar ilmu dengan seorang guru SMA saya.

Jadi guru jangan naif, kadang murid lebih pintar.

Saya sebut bertukar ilmu karena beliau mengajarkan saya pelajaran fisika (karena beliau bukan guru kelas saya) dan saya mengajarkan beliau menggunakan komputer. Pada masa itu komputer masih merupakan barang langka sehingga hanya sedikit orang yang bisa dan kebetulan saya adalah orang yang beruntung itu. Dari pengalaman berkali-kali menjadi tentor dalam beberapa pelatihan blog, Linux, marketing, MLM dan juga duduk sebagai siswa, saya kemudian menetapkan standar bagaimana cara untuk mengajar itu.

Mengajar itu horisontal, bukan vertikal

Sifat mengajar yang horisontal berarti kita sebagai tentor menempatkan diri sama tinggi dengan siswa kita. Kita berbicara sebagai orang yang lebih dahulu tahu, bukan lebih pintar. Kita mentransfer ilmu, bukan memberi ilmu. Saya seringnya mengatakan seperti ini setelah perkenalan:

“Saya berdiri di depan anda sekalian bukan karena saya lebih pintar dari anda, namun hanya karena saya mengenal ilmu ini lebih dahulu daripada anda. Mungkin suatu saat diantara anda sekalian ada yang lebih mengerti ilmu ini daripada saya. Saya berkeyakinan kuat akan hal ini.”

Pernyataan diatas sudah memberikan dorongan kepada siswa untuk lebih santai dan lebih menikmati kebersamaannya dengan anda. Jika kelas sudah santai dan dinikmati, maka pelajaran mudah diberikan. Dalam memberikan pelajaran, anggaplah kita sedang bercerita tentang pengalaman sehingga ilmu apapun itu tidak terkesan menyeramkan.

Mengajar itu memberikan motivasi
Murid yang termotivasi, tidak mencontek.

Dalam mengajar, pastikan selalu memberikan motivasi kepada murid-murid kita. Motivasi bisa dilakukan di seluruh waktu, namun ada waktu-waktu yang terbaik.
Motivasi di pertemuan pertama

Untuk ini saya menjiplak guru SD saya dulu, namanya pak Jamari, beliau adalah guru IPA kelas 2. Saat pertemuan pertama, beliau membawa sebuah gambar Thomas Alva Edison dan memajangnya di depan kelas lalu bercerita tentang Thomas Alva Edison. Ketika saya naik kelas, saya melihat guru saya itu melakukan hal yang serupa pada adik kelas saya. Ya, setidaknya bagi anak-anak kelas 2 SD, kisah Edison itu inspiratif. :)

Motivasi pada tengah pelajaran

Saya terbiasa memberikan hadiah bagi mereka yang dapat mengerjakan sesuatu yang saya tugaskan di tengah-tengah pelajaran. Ini saya tiru dari seorang guru biologi SMP saya. Reward itu bisa berupa makanan atau minuman dan terkadang alat tulis. Reward ini bisa menyesuaikan dengan kebutuhan. Mungkin untuk guru sekolah bisa dengan menjanjikan kebebasan pekerjaan rumah bagi yang dapat menjawab pertanyaan. Yah, hal-hal semacam itulah, tergantung bagaimana kreatifitas dan keadaan.

Motivasi di akhir pelajaran

Untuk ini saya mencontoh dari tayangan di TV yang menampilkan kilasan sebelum jeda iklan. Saya terbiasa memberikan preview pelajaran selanjutnya pada bagian yang menarik sebelum kelas berakhir. Hal ini membuat siswa kita menjadi semangat untuk mengikuti kelas kita selanjutnya. Penasaran adalah senjata guru untuk membuat kelasnya menjadi diminati oleh murid-muridnya. :)

Dan tak lupa, sebagai seorang guru kita haruslah menjadi seseorang yang dapat menyakinkan murid kita bahwa mereka hebat. Kita harus bisa menanamkan kepada mereka bahwa mereka pasti bisa melakukan apa saja asalkan berusaha dengan baik. Hal ini dapat kita tempuh dengan menghindari kalimat-kalimat yang menurunkan keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Saya sendiri berpendapat bahwa tidak ada orang bodoh, hanya saja memiliki pemahaman yang berbeda.

Mengajar itu memberikan contoh

Seorang guru SMA saya pernah mengatakan bahwa “ajarkan apa yang kamu bisa, bukan apa yang kamu tahu”. Maksudnya adalah apa yang kita ajarkan sebaiknya adalah sesuatu yang kita mengerti dan bisa kita lakukan. Lakukan dengan memberikan contoh. Ketika memberikan pelatihan, saya lebih banyak memberikan contoh dan mempraktekkan langsung supaya siswa mengerti dan tidak hanya mengimajinasikan dalam pikiran saja. Oleh karena itu sebagai guru kita harus paham konsep dari suatu hal yang diajarkan. Pemahaman konsep akan membuat kita mudah memberikan contoh apa saja dan memecahkan problematika yang mungkin dihadapi oleh para siswa.

Hal-hal diatas hanyalah sekelumit dari bagaimana mengajar yang baik. Selain dari pengalaman mengajar, pengalaman saya duduk sebagai siswa dari kecil hingga dewasa juga mempengaruhi kesimpulan tentang bagaimana seharusnya seorang guru itu mengajar. Mungkin ada yang mau menambahkan?

hanyalewat.com
Untuk menunjang pelajaran di sekolah, tak jarang anak-anak ikut bimbingan belajar (bimbel). Nah, berikut ini ada sejumlah tips memilih bimbel yang tepat buat Si Kecil.

Daya tangkap setiap anak dalam menerima materi pelajaran di sekolah memang berbeda-beda. Daya tangkap anak yang tergolong rendah, akan sangat memengaruhi perolehan pengetahuannya. Padahal, perolehan pengetahuan berbanding lurus dengan perolehan nilai di sekolahnya.

Masalah kemampuan anak dalam menerima materi di sekolah ini dapat dilihat dari faktor internal, misalnya dari segi gizi yang kurang terpenuhi sehingga daya tahan tubuhnya terganggu, yang mengakibatkannya jadi kurang konsentrasi di sekolah. Selain itu, faktor psikologis anak, misalnya kurang diperhatikan orang tua atau gurunya.

Adapun faktor eksternal yang memengaruhi antara lain cara mengajar gurunya di sekolah yang kurang dipahami atau tak disukai sang anak. Atau, kondisi belajar yang kurang kondusif, misalnya ruang kelas terlalu ramai dan berisik sehingga menganggu konsentrasi belajarnya.

Maka, selain belajar di sekolah, anak perlu mengulang pelajarannya di luar sekolah. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang kesulitan mendampingi anaknya belajar di rumah karena kesibukannya, atau pelajaran sang anak belum tentu dipahami orang tuanya.

Lalu, apakah anak yang pintar dan selalu juara kelas, tidak mengalami masalah penerimaan materi seperti ini? Jawabannya, sang juara kelas juga mengalami masalah ini. Persaingan belajar di kelas bisa ikut memengaruhi naik-turun prestasi belajarnya. Jadi, tak heran jika sang juara kelas pun tetap membutuhkan tambahan pelajaran ekstra, baik di luar sekolah maupun di luar rumah, untuk mempertahankan prestasinya.

Jenis Bimbingan Belajar 

Ada dua jenis bimbingan belajar (bimbel) tambahan yang bisa dipilih, yaitu melalui lembaga bimbel atau privat. Pada lembaga bimbel, metode belajar yang digunakan adalah klasikal, dengan jumlah anak yang dibatasi, dan materi pelajaran yang telah disiapkan lembaga bimbel tadi.

Sementara privat, metode belajar yang digunakan adalah pengajarnya mendatangi sang anak. Jumlah anak yang ikut bimbel privat pun biasanya hanya berjumlah 1-3 orang anak saja. Materi pelajaran yang diberikan lebih tergantung kepada kebutuhan anak. Biasanya, yang dipelajari adalah materi yang dianggap sangat sulit dipecahkan oleh sang anak.

Oleh karena sifatnya lebih private dan mengikuti kemauan sang anak, bimbel privat tentu membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan dengan mengikutkan anak ke lembaga bimbel umum.

Namun, jasa bimbel ini bisa menjadi sangat besar. Anak bisa mendapatkan manfaat belajar yang sulit ditemui di sekolah. Anak juga bisa lebih fokus dan perhatian mengikuti bimbel karena jumlah siswa yang jauh lebih sedikit dibanding jumlah murid di dalam kelas di sekolahnya.

Manfaat lainnya, dengan bimbel anak juga berkesempatan mengulang kembali pelajaran sekolah untuk bisa lebih dipahami lagi. Karena, materi pelajaran tentu akan lebih mudah diingat bila dipelajari berulang-ulang.

Untuk mendukung kemampuan belajar anak, kini lembaga bimbel makin mudah ditemui. Bahkan, membuka usaha lembaga bimbel menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Lihat saja, tak sedikit lembaga bimbel yang berhasil diwaralabakan di berbagai kota.

Akan tetapi, dengan makin menjamurnya lembaga bimbel, makin tak mudah bagi orang tua untuk memilih, lembaga bimbel seperti apa yang cocok bagi sang anak. Situasi ini menuntut para orang tua untuk lebih selektif dalam memilih lembaga bimbel yang memiliki kualitas baik.

Memilih lembaga bimbel memang berbeda dengan memilih guru pivat, yang bisa langsung dipantau orang tua ketika mengajari anaknya di rumah. Untuk memilih lembaga bimbel yang tepat memang dibutuhkan kecermatan orang tua. Dan untuk membantu para orang tua, ada empat hal yang perlu dipertimbangkan:

1. Materi Pelajaran 

Materi pelajaran yang diberikan lembaga bimbel haruslah sesuai dengan kurikulum yang dipakai sekolah anak. Orang tua hendaknya meminta pihak lembaga bimbel untuk menunjukkan kesamaan antara silabus dengan kurikulum sekolah.

Soal-soal yang diberikan lembaga bimbel pun hendaknya bermutu, tidak terlau mudah dan tak terlalu sulit bagi anak. Akan lebih baik jika soal yang diberikan ada kemiripan dengan soal ujian nasional. Ilustrasi yang digunakan pun sebaiknya menarik dan mudah dipahami. Hal-hal tadi, bisa dilihat sekilas oleh orang tua melalui modul belajar yang diberikan.

Oleh sebab itu, lembaga bimbel hendaknya menyediakan modul belajar yang menarik, tak hanya berupa kertas hasil photocopy saja. Jika kemasan modul yang diberikan sangat menarik, tentu akan membuat anak makin senang dan nyaman belajar. Sehingga, patut dicermati bila lembaga bimbel tak memberikan modul belajar, artinya lembaga bimbel tadi tidak profesional.

2. Pengajar Bimbel 

Faktor pengajar sangat berpengaruh dalam proses belajar anak. Jadi, pengajar bimbel hendaknya mampu memahami karakter setiap anak didiknya. Orang tua bisa memeriksa para pengajar bimbel melalui latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjanya, apakah sesuai dengan materi yang diajarkannya atau tidak.

Dalam mengajar bahasa asing, banyak lembaga bimbel menggunakan tenaga native speaker (pengajar asing). Lembaga bimbel dengan native speaker, patut menjadi pilihan karena dipastikan mereka adalah pengajar yang memiliki pemahaman tata bahasa yang baik.

Bila sudah memilih lembaga bimbel yang tepat, cobalah untuk tetap memantau kualitas para pengajarnya dengan menanyakan kepada anak, bagaimana cara para pengajar di lembaga bimbel tadi mengajar.

Sebaliknya, lembaga bimbel pun hendaknya secara rutin mengevaluasi kinerja para pengajarnya, bahkan idealnya para siswa bimbel bisa turut memberi penilaian. Disiplin waktu dalam mengajar bisa menjadi tolok ukur dalam menilai kinerja pengajar bimbel.

3. Fasilitas Ruang Bimbel 

Persaingan bisnis lembaga bimbel tentu akan berpengaruh pula pada persaingan harga. Berhati-hatilah pada penawaran harga yang rendah karena bisa jadi kualitas bimbelnya pun akan rendah pula.

Pastikan harga yang ditawarkan seusai dengan fasilitas yang akan didapatkan sang anak. Misalnya, fasilitas gedung dan kelas yang baik dan memadai. Tak ada salahnya, orang tua mengecek langsung kondisi kelas lembaga bimbel ini.

Dan, perhatikan pula jumlah siswana. Idealnya, dalam satu kelas bimbel siswanya berjumlah 5-15 anak, tak kurang dan tak lebih. Jika kurang, jiwa kompetisi dan minat belajar anak akan menurun karena sepinya ruang belajar. Jika lebih, belajar anak akan makin bermasalah.

Suasana belajar di lembaga bimbel tak ubahnya seperti di sekolah. Namun, di tempat ini anak akan lebih mendapat perhatian, konsentrasi, dan kenyamanan anak dalam belajar akan lebih diutamakan.

4. Lokasi Lembaga Bimbel 

Pertimbangkan lokasi lembaga bimbel yang akan dipilih. Letak lembaga bimbel yang berada di tepi jalan besar mungkin ada untungnya karena lebih strategis.

Namun, pertimbangkan pula keselamatan dan suasana belajar sang anak. Bila terlalu berisik karena suara lalu lalang kendaraan, ada baiknya memilih di lokasi lain. Pilih juga lokasi yang aman, nyaman, dan mudah dijangkau.

Di samping empat hal tadi, orang tua memang perlu mengetahui apakah peraturan belajar di lembaga bimbel cukup menawarkan kedisiplinan atau tidak. Sebab, tak sedikit yang terjebak menjadi sarana untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) anak, yang seharusnya ia selesaikan sendiri di rumah.

Sangat tidak mendidik bila lembaga bimbel akhirnya "pasrah" dan hanya sekadar menyelesaikan PR anak saja. Hal ini akan membuat anak jadi makin malas belajar dan tak mau berusaha memecahkan masalahnya sendiri.

Dan yang terpenting dalam memilih lembaga bimbel atau privat adalah dengan memilih yang sudah berpengalaman. Hal ini bisa dilihat dari kemampuannya dalam membantu anak meraih prestasi di kelas, luus dengan nilai memuaskan, bahkan bisa masuk ke jenjang pendidikan lanjutan favorit.

Untuk mendapatkan segala informasi penting ini tentu tak sulit, bukan? Karena pihak lembaga bimbel akan menjadikan kelebihan-kelebihannya tadi sebagai bagian dari promosi gratisnya.

Kiriman: Kurniati, S. Pd., pengajar di bimbingan luar sekolah, Palembang.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!